Pages

Sabtu, 06 November 2010

The ANGELS of LOVE (Versi ICIL)

/1
GOOD BYE

Ify Membuka matanya perlahan. Rasa nyeri di sekujur tubuh yang baru sedetik lalu menyiksanya kini menguap entah ke mana. Tubuhnya sangat ringan, seolah gaya gravitasi tak mampu menariknya lagi. Tiba-tiba Ify sadar kalau ada seseorang di sebelahnya. Oh ya, tentu saja Kakaknya. Tapi dia tertegun ketika akan membangunkan Kakaknya yang tergolek dian di atas kursi pengemudi.
Di sana, kursi penumpang, tubuhnya menelungkup kaku pada dashboard mobil. Darah segar menciptakan sungai kecil di pipinya yang chubby. Dia tak lagi bernapas.
"Alyssa Saufika Umari, usia 14 tahun..."
Ify mendengar sebuah suara berat memanggil namanya. Dia berbalik dan mendapati seorang pria berjubah hitam, lengkap dengan tudung kepala yang juga berwarna hitam.
Memangnya saat ini ada pesta kostum? Ify ingin bertanya. tapi kemudian dia ingat hari ini hari apa. 16 Juli tentu. Mungkin orang ini salah satu Harry Potter freaks yang ingin berperan sebagai Dementor atau Death Eater saat launching seri ke-enam buku paling laris sejagad itu. Tapi tunggu! Dia kan sudah mati! Kenapa orang ini bisa melihatnya?
"...Jakarta, Indonesia, 16 Juli 2010 pukul 21.13" Orang itu melanjutkan laporannya dengan suara monoton. "Prosedur biasa!"
Komentarnya yang terakhir membuat rasa penasaran Ify mendidih sampai ke ubun-ubun.
Tapi belum sempat dia membuka mulut, si Jubah Hitam itu, yang sekarang nyengir memamerkan betapa kinelong giginya yang sudah nyeletuk duluan, "Ok, saatnya kembali ke akhirat."
Akhirat?! Ify terkesiap. "Bapak ini siapa sih?" tanya Ify setengah takut, setengah panik.
Si Jubah Hitam mengerutkan dahi menatap gadis di depannya. "Hm... bagaimana ya?" tanyanya seraya menggaruk-garuk kepala atau lebih tepatnya tudung jubahnya. "Nama saya Davenor, putra pertama dari ketua perkumpulan malaikat pencabut nyawa, pasangan Devus dan Minerva. Tapi saya lebih ngetop dipanggil Veor. Dan meski saya berumur 438 tahun, tapi saya belum keriput lho. Jadi please  donk, jangan dipanggil 'Bapak'. Kesannya sudah oom-oom gitu lho!"
Sekarang giliran Ify yang melongo, membuat matanya yang sudah mirip penari Kecak makin membelo hingga nyaris jatuh dan menggelinding di aspal. "Jadi anda ini siapa? Maksud saya, apakah Anda bukan manusia?"
"Yah, begitulah kira-kira," Veor menjawab enteng. "Saya ini Malaikat Pencabut Nyawa."
"Malaikat Pencabut Nyawa?!" seru Ify tidak percaya. "Tapi di dalam kartu Tarot, Malaikat Kematian selalu membawa tongkat sabit. Dan yang ada di balik jubah itu adalah tengkorak atau makhluk-makhluk mengerikan lainnya."
"Ah, itu kan hanya imajinasi manusia," balas Veor sambil merogoh kantongnya, mengeluarkan sebuah benda yang kini berada dalam genggamannya. "Manusia selalu mengaitkan 'Kematian' dengan 'mengerikan'. Padahal, kematian itu kan indah," katanya lagi seraya menerawang dengan mata berbinar. Tiba-tiba ada sejuta bintang berputar-putar di hadapan Veor. Sirene mobil polisi menguak kesunyian malam. Cahaya biru dan merah tampak berpendar-pendar dari ujung jalan yang gelap. Pasti ada seseorang yang menyadari adanya kecelakaan ini, lalu menelpon polisi. Sayangnya sungguh terlambat. Aku sudah mati, pikir Ify getir.
"Ooh, gawat! Kita terlalu lama disini." Veor melirik arlojinya. "Kalau telat, nanti saya nggak bisa nge-date."
Memang di akhirat bisa nge-date?! 
Veor segera membuka tutup benda yang sejak tadi digenggamnya erat. Sinar terang menyilaukan mata terpancar dari benda itu. Dan begitu sinar itu lenyap, sepasang sayap bulu ayam menyembul lembut dari punggung Ify, engepak-ngepak tidak sabar ingin segera terbang.
"Haa... chiiiii!!"
"Aduh, kacian, kedinginan ya?" Veor menatap Ify iba.
"Bukan!" sergah Ify sambil menggosok hidungnya. "Gara-gara bulu ini nih. Saya alergi bulu ayam."
"Ooo..."
Veor menggandeng lengan Ify dan membawanya mengangkasa. Mereka meninggalkan tanah, meninggalkan kesibukan di sekitar mobil yang remuk itu, dan meninggalkan semaraknya dunia fana ini. Rumah, gedung, tanah lapang, serta semua yang ada di bumi tampak semakin kecil seiring kepergian mereka. Saat berada di antara langit dan bumi, Ify serasa melayang di lautan bintang.
Selamat tinggal Mama. Selamat tinggal Papa. Selamat tinggal Kakak. Selamat tinggal Kecoa, pohon kesemek, dan kaus-kaus robek. Selamat tinggal duina!!!
Setelah melewati lapisan Stratosfer, langit yang di atas berubah menjadi terang benderang walau saat itu belum saatnya ayam bertelur, eh berkokok. Diantara gumpalan-gumpalan putih yang mirip kapas, semakin lama tampak semakin jelas sebuah pintu gerbang keemasan berdaun ganda. Pintu berukuran over large size Iitu bergerak menutup dengan kecepata 5mm/detik. 
"Gawat! Pintunya sudah mau menutup!" seru Veor panik seraya meningkatkan kecepatan terbangnya.
Sayap-sayap di punggung Ify berusaha mengikuti gerakan Veor. Mereka bekerja extra keras sampai Ify dapat melihat butir-butir keringat menetes dari bulu-bulu yang lembut itu.
Bulu ayam?! "Haaa....Chiiii!!"
"Sabar, sebentar lagi sampai." Teriakan Veor terdengar sangat jauh di dalam kecepatan pesawat jet.
Mereka berdua berkelit lincah menghindari kumulus-kumulus yang tampak seperti semak-semak di halaman rumah Ify. Dan akhirnya, setelah terbang selama 28.400 detik, begitu kata Veor, mereka sampai di depan pintu raksasa tadi.
Pintu itu terbuat dari permata yang paling memuku hati. Ukiran-ukiran di sekelilingnya berkilau keemasan menyilaukan mata. Permukaan yang licin sempurna membuatnya tampak seperti kaca murni. Kejernihan cahaya yang dipantulkan mampu menghipnotis jiwa.
"Kenapa masih bengong?!" suara Veor menyentakkan Ify dari pintu yang memesona itu. Dia sudah berdiri di dalam sana.
Tepat sebelum kedua daun pintu itu menyambar sayap bulu ayam di punggung Ify, gadis itu berhasil masuk dengan selamat tanpa kehilangan selembar bulu pun. "Apa yang terjadi kalau saya tidak berhasil masuk?" tanya Ify masih tersengal-sengal.
"Rohmu terpaksa harus bergentayangan sampai awal minggu depan. Soalnya, pintu akhirat selalu ditutup selama akhir Minggu. Kami kan juga butuh weekend, " Veor memberi tahu. "Dan satu hari di sini, tidak sama dengan satu hari di bumi."
Ify baru ingin bertanya, satu hari di akhirat sama dengan berapa hari di bumi ketika rasa geli menggelitik punggungnya. Cewek manis ini terpaksa bergoyang ala striptease untuk menyalurkan penderitaannya. Tidak lama kemudian, gangguan itu lenyap disertai munculnya isakan sendu.
"Walau badai menghadang, ingatlah ku kan selalu setia menjagamu..." Sepasang sayap di punggung Ify telah lepas. Dan sekarang mereka melantunkan baris terakhir dari lagu Masih-nya Ada Band. Lalu, bulu-bulunya satu per satu mulai beterbangan.
"Haa..."
Lebih banyak bulu lagi.
"Haa...chiii....Haaa"
Sayap itu tak tampak lagi. Tapi bulu-bulu ayam berparade di depan wajah Ify.
"HaaaChiii!!!" Berbutir-butir air mata terkucur dari kedua mata belo gadis itu, tidak jelas apakah air mata kesedihan ataukah...
Veor membawa Ify pada seorang wanita gemuk berwajah keibuan, lengkap dengan celemek di dadanya. Sepasang lensa bulat dari kacamata jepit model kuno bertengger di hidungnya. dia benar-benar mirip seperti Fairy Godmother di dalam dongeng-dongeng.
"Maaf saya sudah ditunggu Silverbell," kata Veor yang mengdipkan sebelah matanya pada Ify. "Nah, selamat bersenang-senang Alyssa Saufika Umari!" Dia melambai, lalu melesat pergi. Jubah Hitamnya kembali berkibar bagai gelombang.
"Silver Bell?!" Ify mendengar kata itu meloncat dari mulutnya. Yang dia tahu, Silver Bell itu judul sebuah lagu.
"Kekasih hatinya," The Fairy Godmother mencicit. "Malaikat cantik itulah yang mampu membuat Veor bertahan pada pekerjaannya."
"Ooh, pacarnya ya?"
"No, no!" The Fairy Godmother menggerakkan telunjuk kanannya. "Pacar. Istilah itu dilarang di sini."
"Di akhirat ini, semua makhluk hidup bersahabat dengan damai. Status seperti pacar, suami-istri, budak-tuan tidak diperlukan lagi. semua makhluk memiliki kedudukan yang sama dan saling menghormati, " jelas The Fairy Godmother sambil menuntun Ify ke rumah kaca di dekatnya.
Rumah kaca ini tidak berisi tanaman. di atas pintu masuk, tampak cahaya yang meliuk-liuk membentuk tulisan, bunyinya Kantor Imigrasi Bumi-Akhirat. Sumber cahaya itu tidak jelas datang dari mana, yang jelas bukan dari lampu neon.
"Ngg... Namamu?" The Fairy Godmother bertanya ketika mereka telah tiba di depan counter yang mungkin terbuat dari kristal juga. Di dalam kristal itu, ada peri-peri beraneka warna yang hanya berukuran ibu jari sedang terbang.
"Ify," jawab Ify secepatnya.
"hmm, Alyssa Saufika Umari ya." Si Fairy Godmother mencoret nama Ify dalam daftarnya "Senang berkenalan denganmu Ify. Namaku Fairy Godmother."
Ify tidak menyangka tebakannya jitu. "Senang berkenalan dengan Anda juga"
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar